kb

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Berdasarkan dalam muktamar kedua tahun 1385 H/1965 M Muktamar Lembaga Riset Islam di Kairo menetapkan keputusan, bahwa sesungguhnya Islam menganjurkan untuk menambah dan memperbanyak keturunan, karena banyaknya keturunan akan memperkuat umat Islam secara sosial, ekonomi dan militer serta menambah kemuliaan dan kekuatan.

Akan tetapi, banyak keluarga yang telah menerapkan program KB, dengan tujuan untuk membatasi jumlah anak. Selain itu, Negara juga dengan gencarnya mencanangkan program KB, dengan tujuan untuk menekan ledakan populasi penduduk.

Apa sebenarnya KB itu ? Dan apa tujuan di laksanakannya program KB ? Disini, saya akan membahas sedikit mengenai penerapan program KB menurut pandangan Islam.

Definisi Keluarga Berencana

Keluarga Berencana menurut Undang-undang (UU) No. 52 tahun 2009 pasal 1 (8) dalam Arum dan Sujiatini (2009) tentang perkembangan dan kependudukan dan pembangunan keluarga sejahtera adalah upaya mengatur kelahiran anak, jarak dan usia ideal melahirkan, mengatur kehamilan, melalui promosi perlindungan dan bantuan sesuai dengan hak reproduksi untuk mewujutkan keluarga yang berkualitas.

Keluarga berencana menurut Undang-Undang No. 10 tahun 1992 (tentang perkembangan kependudukan dan pembangunan keluarga sejahtera) adalah upaya peningkatan kepedulian dan peran serta masyarakat melalui pendewasaan usia perkawinan (PUP), pengaturan kelahiran, pembinaan ketahanan keluarga, peningkatan kesejahteraan keluarga kecil, bahagia dan sejahtera (Arum, 2008).

(http://www.ydsf-malang.or.id/konsultasi/detail/76_Hukum_KB.html)

Ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan program KB

Pandangan Al-Qur’an Tentang Keluarga Berencana

Surat An-Nisa’ ayat 9:

يدًا سَدِ لًا قَوْ لُوا وَلْيَقُو للَّهَ ا فَلْيَتَّقُوا عَلَيْهِمْ خَافُوا ضِعَافًا ذُرِّيَّةً  خَلْفِهِمْ مِنْ كُوا تَرَ لَوْ الَّذِينَ وَلْيَخْشَ

“Dan hendaklah takut pada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah. Mereka khawatir terhadap kesejahteraan mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar”.

Selain ayat diatas terdapat juga dalam surat Al-Qashas: 77, Al-Baqarah: 233, Lukman: 14, Al-Ahkaf: 15, Al-Anfal: 53, dan At-Thalaq: 7.

Dari ayat-ayat diatas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa petunjuk yang perlu dilaksanakan dalam KB antara lain, menjaga kesehatan istri, mempertimbangkan kepentingan anak, memperhitungkan biaya hidup berumah tangga.

Pandangan Al-Hadist Nabi tentang Keluarga Berencana

Dalam Hadits Nabi diriwayatkan:

إنك تدر ورثك أغنياء خير من أن تدرهم عالة لتكففون الناس (متفق عليه)

“sesungguhnya lebih baik bagimu meninggalkan ahli warismu dalam keadaan berkecukupan dari pada meninggalkan mereka menjadi beban atau tanggungan orang banyak.”

Dari hadits ini menjelaskan bahwa suami istri mempertimbangkan tentang biaya rumah tangga selagi keduanya masih hidup, jangan sampai anak-anak mereka menjadi beban bagi orang lain. Dengan demikian pengaturan kelahiran anak hendaknya dipikirkan bersama.

Hukum memotong organ reproduksi laki-laki atau perempuan dalam KB

Majelis Ulama’ Indonesia (MUI) pada tanggal 13 Juli 1977, membahas mengenai vasektomi dan tubektomi, dan mengutarakan pendapatnya, yaitu: Pertama, pemandulan dilarang oleh agama. Kedua, vasektomi dan tubektomi adalah salah satu usaha pemandulan. Ketiga, di Indonesia belum dapat dibuktikan bahwa vasektomi dan tubektomi, dapat disambung lagi.

Kemudian MUI mengeluarkan fatwa pada tahun 1979, bahwa dalam penggunaan vasektomi dan tubektomi adalah haram. Fatwa ini kemudian diperkuat lagi pada tahun 1983 dalam sebuah sidang Muktamar Nasional Ulama’ tentang Kependudukan dan Pembangunan. Dari hasil sidang tersebut menghasilkan keputusan fatwa yang menyatakan bahwa vasektomi dan tubektomi dilarang dalam Islam karena berakibat kemandulan yang abadi.

Setelah para ahli bidang medis telah berhasil menyambung kembali yang mashur dengan rekanalisasi, maka kehamilan dapat berfungsi kembali. Dengan ditemukannya upaya ini, maka keputusan Fatwa MUI 1979 ditinjau kembali melalui Seminar Nasional dan Peningkatan Peran Ulama’ Dalam Gerakan KB Nasional, yang terselenggara pada tanggal 17 s/d 19 Februari 1990 di Jakarta. Setelah seminar memperhatikan keberhasilan rekanaliasi, maka MUI dalam fatwanya tahun 1990 menyepakati bahwa penggunaan kontrasepsi vasektomi dan tubektomi dibolehkan karena akibat kemandulan dapat diatasi melalui rekanalisasi, dalam hal ini berlaku hukum darurat.

(http://zangpriboemi.blogspot.com/2012/10/pandangan-islam-terhadap-vasektomi-dan.html)

Argumen-argumen hukum islam yang mendukung pelaksanaan KB

Diantara ulama yang membolehkan adalah Imam al-Ghazali, Syaikh al-Hariri, Syaikh Syalthut, Ulama yang membolehkan ini berpendapat bahwa diperbolehkan mengikuti program KB dengan ketentuan antara lain, untuk menjaga kesehatan ibu, menghindari kesulitan ibu, untuk menjarangkan anak. Mereka juga berpendapat bahwa perencanaan keluarga itu tidak sama dengan pembunuhan, karena pembunuhan itu berlaku ketika janin mencapai tahap ketujuh dari penciptaan. Mereka mendasarkan pendapatnya pada surat  Al-Mu’minun ayat 12, 13, 14.

لْمُضْغَةَ افَخَلَقْنَا مُضْغَةً لْعَلَقَةَ فَخَلَقْنَا عَلَقَةً النُّطْفَةَ اخَلَقْنَ ثُمَّ (13) مَكِينٍ قَرَارٍ فِي نُطْفَةً جَعَلْنَاهُ ثُمَّ (12) طِينٍ مِنْ سُلَالَةٍ مِنْ الْإِنْسَانَ خَلَقْنَا

(14)الْخَالِقِينَ أَحْسَنُ اللَّهُ كَ فَتَبَارَ آَخَرَ خَلْقًا أَنْشَأْنَاهُ ثُمَّ لَحْمًا الْعِظَامَ فَكَسَوْنَا عِظَامًا

(tafsir edisi ke-36 keluarga berencana dan pemberdayaan perempuan)

• Menghawatirkan keselamatan jiwa atau kesehatan ibu. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 195, yang artinya: “Janganlah kalian menjerumuskan diri dalam kerusakan”.

• Menghawatirkan keselamatan agama, akibat kesempitan penghidupan hal ini sesuai dengan hadits Nabi: “Kefakiran atau kemiskinan itu mendekati kekufuran”.

• Menghawatirkan kesehatan atau pendidikan anak-anak bila jarak kelahiran anak terlalu dekat sebagai mana hadits Nabi: “Jangan bahayakan dan jangan lupa membahayakan orang lain.
Penjelasan hadist Nabi tentang Coitus Interrupts dalam KB

Mengenal Coitus Interruptus

Coitus interruptus atau dikenal dalam Islam dengan ‘azl , biasa disebut pula withdrawal atau pull-out method, adalah salah satu dari cara mengontrol kelahiran, di mana laki-laki tatkala bersenggama menarik penisnya dari vagina si wanita sebelum terjadi ejakulasi. Si pria sengaja menumpahkan spermanya dari vagina pasangannya dalam upaya untuk menghindari inseminasi (pembuahan). (Sumber: Wikipedia English)

“Lebih baik kalian tidak melakukan itu, karena jika jiwa (dalam hal ini jiwa bayi) manapun (sampai hari Kebangkitan) memang ditentukan untuk menjadi ada, maka jiwa itu pun akan ada.”

Kami dahulu melakukan ‘azl di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sampai ke telinga beliau, namun beliau tidak melarangnya” (HR. Muslim no. 1440).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang melakukan ‘azl terhadap wanita merdeka kecuali dengan izinnya.” (HR. Ibnu Majah no. 1928, Al Baihaqi dalam Al Kubro 7: 231. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini dho’if)

Q.S Al-Mu’minun ayat 5 : “dan orang-orang yang menjaga kemaluannya”

(http://indonesia.faithfreedom.org/forum/hukum-coitus-interuptus-dalam-islam-t46421/)

Jadi, dapat di simpulkan bahwa KB di benarkan dalam Islam. Hanya, lihat dahulu tujuan melaksanakan program KB tersebut. Apabila untuk pembatasan keturunan karena takut miskin, maka pelaksanaan KB di haramkan oleh Islam. Tetapi apabila tujuan KB adalah untuk mengatur kelahiran atau di karenakan kondisi ibu yang tidak memungkinkan untuk memiliki anak, maka pelaksanaan KB di halalkan oleh Islam.